Wednesday, July 31, 2013

bangunkan aku nanti dengan cangkir senja dan tuangkan lembayung jingga yang pekat. 
rencananya, malam yang pahit kan kutenggak lagi sampai pagi.
kemarin dapat kiriman dari desa bulan. 
setiap fajar selasa mereka punya kebiasaan mendoakan manusia-manusia bumi. 
seakan-akan, kita ini lah yang mati.
nihil kata tuk kukatakan
salah paham terbentang sepanjang jurang
dan diantara reruntuhan di tepinya
adalah bunga-bunga kenangan

dimana hujan
yang kabarnya penghapus gersang
apa kukira bahkan pelangi pun kan kau coba luruskan?

aku lempari awan dengan makian
berharap badai bergumpal berdatangan
aku mengharapkan hujan
tuk menghapus kehausan yang menyiksa

tadinya aku menunggu dengan malu
kini sudah jemu hingga bunga rinduku layu

Ritual

kau gila kau gila kau gila
kuucapkan mantra, setengah marah
kau tuli kau bisu kau buta.
kau penyakitan terkapar berdarah

Arrrrrrrrrr...ggaaahhh
timbul tenggelam
kepahitan
kebencian

menggigil terisak, samar ku rasa
namamu bergaung tak teraih
entah dimana pijak dunia
kuhabis pilu hilang tertatih

kau tak tau apa-apa
andai bisa ku katakan
andai bisa ku teriakan...
kutekan dalam-dalam gelegak api
mendidih disana airmata luka

segalanya
kita bakar semesta
dan kita bakar surga