"ngegambar anak tangga lagi?"
"hahaha, excuse me?"
Dia pikir itu gambar anak tangga. Buat gue yang seumur hidup nilai kesenian paling tinggi cuma tujuh, dilematis harus ngerasa tersanjung atau terhina. well, the latter was joke, of course.
then, he's babbling a you-know-how-it-will-go absurd conversation...
"loe yang mana, hidup yang turun nanjak nanjak atau lurus belok-belok?", An mulai ngelantur.
"i prefer turun nanjak-nanjak."
"nah pas!"
"sigh. mata gue gak bisa ngeliat yang frame ratenya rendah tauk.."
"oh ya. tapi pilihan loe gak jelek sih. siapapun tahu kalo naik gunung itu capekan ngedaki daripada turun. jadi, sekarang lagi turun apa nanjak?"
cyclic question, cih.
"gak dua-duanya, kan." senyum sinisnya keluar.
curse you, An.
"you and your own battlefield. jadi, kap.."
PLAK!
"gimme your keys, and don't you dare go back to your home. Manja staying with me tonight."
"EEhhhh??!! S.s..sorry."
"It's alright. daah."
Medan perang itu cuma imej-negatif. An lah yang mencucinya sedemikian rupa, hingga terlihat jelas warnanya, siapa berperang dengan siapa. Setiap pijakan di koridor, suara manusia berbicara, bertengkar, semuanya masuk kesana. Meng-audio visualisasi setiap imaji yang paling kubenci. Wajah dua orang itu. Wajah paling keras.
Ah iya, kelupaan. Aku berbalik lagi ke arah An.
"Hey, itu bukan anak tangga loh." aku menunjuk anak tangga yang terus digambar An.
untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya memang anak tangga sih. haha
"Itu gambar anak panah. hahaha."
An terpelongo. Aku melenggang pergi.
