Sunday, December 11, 2011

aku pantai yang kehilangan camar
perbukitan yang rindu kebun-kebun teh
aku pagi tanpa burung gereja
atau senja yang lupa jingganya

menggenggam udara, menatap gulita malam
hening tanpa nada, kosong di savana
angin menamparku...dan semua ini
belum cukup untuk menyatakan kehilangan.

suatu tempat di Taman Waktu...

Pita merah, panjang terbentang dari tanganku…menuju lingkar lehermu. Mengikatmu, kata orang. Tapi terseret di gersang amarahmu, aku. Yang katanya dulu penuh dengan hijau rerumputan dan bunga-bunga liar.
Dibawah kakimu, terinjak buta mata kananku. Frasa, melihat sebelah mata lengkap sudah. Bukan tajam wajah yang menghujam, yang kau tawarkan lebih besar. Sendu. Air mata yang tervaporasi, merah hitam tatapmu, karat sejarah di ujung pelipisnya, bibir merah yang terkoyak – dan ruang hampa di hatimu menenggelamkanku dalam segala tanpa akhir.
Aku koma. Bahkan disana kau masih berdiri bergetar. Masih dengan tali merah di lehermu, mencambukku, dan ribuan darah segar  memandikanku. Ini caramu menyucikanku. Kau tatap langit, sedang kau menggantungiku menuju angka enam. Lalu kita mati bersama. Kau setia. Epilog yang kau sediakan untuk yang mencintaimu.
Disana berdiri, di ujung jalan, dimana waktu terhenti. Kita yang menghentikankannya. Berharap tak ada yang merebut rasa sakit ini. 

Monday, October 10, 2011

aku yang patah hati

dijemariku, ada malu dan iba berbisik
menyampaikan tujuan yang tak terlisankan
dalam kelu lidahku, kucoba berucap balik
“semesta...semesta...semesta...”, itu mantranya

bertintakan hujan, langit menulisiku rindu
rindunya fajar pada kejora, rindunya mentari untuk pelangi
ya..semua tak lama, lalu terpisahkan oleh sehelai ruang
namun rindu itu terlalu luas, terlalu haus untuk bersapa dengan hitungan waktu

kau dan aku adalah penyatuan rindu itu
berkelabat cepat di semua dimensi,
lalu duduk hening dibawah cahya tak bernama

dalam putih pucat kucecar abstrak hadirmu
menggores tiap detil indahmu, tapi tak mampu
logikaku tunduk bisu, dan entah nafsu ataukah jeritan yang terlalu berderu
aku rusak - tenggelam - berserakan .