Friday, October 7, 2011

Memangkir Janji

pecutlah hati yang gelisah
dan piaralah damai dalam heningnya
tutur sang guru
dan aku terkantuk-kantuk mendengarnya

oh, guru
setapak jalanku adalah bara
dan ujungnya adalah durjana
resah ini tiada habisnya, dan lakuku semakin gila

remahan bahagia kutelan
ku pecut-pecut di sela luka yang kutahan
dan dihadapku albaqarah enam tiga
adakah tempatku lari selain Tuhan yang murka?

Ditepi Nelangsa

kutatap diriku diantara kapas-kapas bisu
dan kutemukan bisik meracau payau

berkata nurani pada kulit yang dingin
aku hilang tak bisa kembali
benci pada dunia yang telah kubohongi berkali-kali

apa ada tempat buatku ini?
sementara angin telah menjadi badai 
dan gadis kecil berwajah mengerikan membuatku hilang tempat memijak

aku lupa bagaimana jemari menari
di atas kertas berbingkai hangus yang biasa kuhadiahkan padamu
aku hanya dapat melayang terbang dalam ingatan

pinjamkan aku lentera, lilin, korek, mancis
atau apa saja penerang gelap di sudut mata
tak ada bentuk atau rupa, hitam saja

dan lain ketika siangku mendekat
sekumpulan orang berpeci dan berbaju hitam datang
memegang yasin dan potongan kain kafan...
ah, waktunya ku dimakamkan.





Tuesday, September 6, 2011

Cermin


kulihat cermin diriku.
5 tahun kedepan.

terkapar di ruang putih.
mati. sendirian.

brengsek!! Cermin sekarang belajar menipu.

prangg!!!
pecahan kaca, sedikit bercak darah

ku intip dari satu keping kaca.
cermin diriku 3 tahun ke depan,
sambil berdarah-darah mengejar sarjana.

kuambil martil.
druakk!

proyektil tajam menerjang mataku.
aku menjerit.
5 menit kemudian aku diam.
kuputuskan menjemput takdir 5 tahun kedepan.

*29-08-2010...