Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Thursday, June 10, 2010
Sahabat Selamanya
saat masih berdiri di depan pintu masa depan
saat kenangan masih belum ada
dan kita ukir disitu, perlahan dan selamanya
saat semua mimpi bergitu haru
saat semua yang kita rasa masih terasa begitu nyata
dan kita percaya tawa selamanya
tapi kawan…
mimpi itu bukan simpang tiga empat
yang biasa kita lewati sehari-harinya
ada seribu atau sejuta jalan setapak disana
yang tiap langkah membuat kita berbeda
saat pertama kita selalu akan bicara
saat kedua kita akan meratap berdua
saat ketiga kita akan saling menukar cinta
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
saat pertama kita sudah tutup bahasa
saat kedua gelora sakit membuat kita lupa
saat ketiga kita akan saling menukar kecewa
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
tapi kawan…
mimpi itu pernah ada
yang dulu sama-sama kita gantung di langit
ada sejuta atau seribu malaikat berdansa
yang tiap do’anya mempertemukan kita
kita manusia, berbicara dengan hati yang perasa
kita kerdil, dengan segala ciptaan nuansa
luka-luka ditutup lembut, takkan hilang tapi tiada berasa
kitab-kitab rencana ditata ulang, kita belum hilang suatu asa
sesungguhnya kita saling percaya, jauh disana
sesungguhnya kita saling berharap, walau tak dikata
dan inilah kita, yang melihat dan tertawa
dan inilah kita, yang menangis dan tersenyum
biar saja Tuhan sesuka-Nya memplintir kehidupan kita
karena rantai pengikat hati takkan lepas selamanya
Sunday, January 17, 2010
tak pernah salah
secepatnya,
ingin kubenahi hati,
melipat kenangan menyisipkan kerisauan,
bertumpuk-tumpuk di koper pembuangan,
secepatnya,
ingin kuberlari di lorong ini,
mengalahkan angin mengalahkan waktu,
dalam terbang bebas di antara ketiadaan...
secepatnya,
ingin ku temui Tuhan,
bertanya takdir mengungkap kesahku semua,
kenapa, kenapa tidak mata ujian standar saja??
secepatnya,
ingin aku terbangun. .
dari mimpi ini dari ketidakberdayaanku,
melesat. . .cepat, mengulang kesalahan yang sama. . .
Friday, January 15, 2010
Polaris

sesubuh ini kita di tengah laut
berkompaskan bintang yg tak pernah surut
nelayan ikan, nelayan ikan, oh nelayan ikan
pasir-pasir pantai terkikis
berombak awan dan lautan
menyambut prajurit hendak mengemis
pada Tuhan Segala Tuan
karang semata saksi bisu
pengakuan susah sepi dirimu
ditengah lautan tangis menyatu
menyapu segala gundah dan rindu
tak usah risau tuan,
bintang timur masih disana,
bergelayut menjadi harapan
tumpuan seribu kotak cinta
Subscribe to:
Posts (Atom)