apakah ada semburat merah di ufuk kejora,
masih pun mengaduk secangkir kopi sementara kau berbisik akan pergi
dan terlalu pagi disini buatku mati
aku bungkam, dengan kata-kata yang kutikam
tak sampai hati membiusmu kembali
masih banyak dosa yang belum lagi ku tobatkan
satu darimu membuat segalanya pendar tak berpola
kau mawar, birahiku yang tertahan...
pinjamkan aku satu nafas lagi, barangkali sisa-sisa tadi malam
biar kurekatkan, tinta dari ludahmu, kurajut untuk lukaku...
No comments:
Post a Comment