Kita berpandangan, entah bagaimana caranya, matamu yang begitu gelap memikat. Dimatamu, ada serumpun bambu basah menguning, gagak hitam yang berterbangan, dan secarik surat setengah terkoyak. Dimatamu, kau biarkan hutan hujan liar merambat, bangkai teman-temanmu berserakan, dan kepala mirip wajahku tergantung. Aku belingsatan, terpenjara dalam siklus ketakutan. Aku tersesat.
Masih berpandangan, aku menemukan sungai terbendung. Memisahkan matamu dari apa yang ada dimataku. Aku mau pulang. Tetapi serabut akar mengikatku cepat. Langit memekat, sedang dibelakang, duniamu jauh lebih tak bersahabat. Aku pun mendengar suara samar berkelabat, "...gi!" Jawabku hanya belalak tak percaya. Reflek kutekan gaya, aku lari menuju nyata dimataku. Terlambat. Satu pijakan dibendunganmu; hancur. Melemparkanku jauh lebih pekat dari bencimu. Hujan menjatuhiku hukuman mati. Seketika samudera pecah. Aku saksi mati ditengah-tengah. Dan dikedua tanganku, ada dua matamu, yang tak berhenti mengalirkan sumpah.
Dari 3 di hari ini, paling suka yang ini! :D
ReplyDelete