Tidak
begitu susah sebenarnya bagiku, jika hanya duduk diam denganmu lalu berbicara
tentang hari-hari kita. Tidak begitu susah sebenarnya bagiku juga, jika saja
pertanyaan itu tidak pernah kau lontarkan.
Karin
masih memejamkan matanya saat aku menatapnya dengan perasaan hangat. Dia
menikmati belai angin dan suara ombak. Aku menikmati ombak lain yang berkecamuk
di dadaku. Hari ini, ya, hari ini aku berencana untuk menembaknya. Momen yang
tepat menurutku.
“Rin,
hei Rin..”
“Ehm…apa
ada Lang? Ganggu orang asik tidur aja nih.”
“Hehe,
sorry. Udah mimpi belum tadi?”
“Engga.
Suara ombaknya bukan bantu gue tidur nyenyak, malah asik mikir.”
“Sama
dong, emang loe mikir apa?”
“Hmm,
kenapa ada ya orang yang mau baik sama kita?”
“Masa
orang mau berbuat baik ditanya-tanya sih.”
“Gak
gitu, kalo subjeknya dasar baik sih kaya gue sih maklum.”
“Yee…”
Gue tepuk pundaknya pelan.
“Oke-oke,
gue bercanda. Terus tadi loe mikir apa?”
Aku
mengambil nafas pelan. Berusaha berpikir kalau semesta ini melahirkanku dimana
pun, bahwa takdirku tetap jatuh pada Karin. Semoga saja.
“Kira-kira,
berapa banyak jumlah kebaikan yang harus seseorang lakukan untuk dia pantas
mencintai orang lain?”
“Ha?
Emang loe mikir gitu tadi? Kok temanya dekat ya. Haha”
“Udah
jawab aja.”
“Hmm…berat
pertanyaan loe men.”
“Berapa
banyak jumlah kesalahan yang seseorang maksimal lakukan agar dia masih pantas mencintai
orang lain?”
Karin
terdiam. Tapi wajahnya tidak seperti orang bingung. Wajahnya begitu tenang,
seakan-akan dia telah mempunyai jawabannya.
“Gilang..”
“Ya?”
“Seandainya
pun manusia berbuat kesalahan banyak, Tuhan masih menerima manusia yang datang
padaNya dengan mengakui kesalahannya. Tapi seandainya manusia melakukan banyak
kebaikan, apa yang menjadi intinya apakah dia melakukannya karena ia taat pada
Tuhannya atau karena ketakutannya, keterpaksaan, dan sebagainya.”
Aku
tercengang.
“Maksudnya
Rin?”
Karin
kemudian berdiri. Membiarkan wajah dan rambutnya disapu angin.
“Seandainya
loe berbuat baik karena gue, ataupun loe berbuat kesalahan sama gue.
Pertanyaannya, berapa banyak diri loe yang mesti loe hadirkan atas alasan-alasan
itu? Sederhananya, bagian diri loe yang mana yang benar-benar hadir untuk gue?”
Aku
terdiam. Teringat tiga tahun yang lalu. Tak sengaja melihat Karin keluar dari hotel
dengan seorang lelaki yang berumur. Wajah Karin kusam. Saat itu lautan
menemukan ombaknya. Ombak yang mampu menenggelamkan cinta itu sendiri.
*baru baca, tumben postinganmu agak terlewatkan *info g penting
ReplyDeleteyang terpikirkan samaq, knp nanyanya "alasan mencintai orang lain?" bukan "dicintai orang lain". Jadi teringat komik Kare kano, yang juga lebih memilih kata "mencintai" dari pada "dicintai" (kalau2 kau pernah baca, komik itu bgs jg).
agak rumit, dapet poinnya, tapi aq susah nemuin korelasi ceritanya. *baca berulang2.
wajah "dicintai" itu satu, sedangkan wajah "mencintai" itu seribu.
ReplyDelete