Friday, February 10, 2012

Rok Pendek

Untuk perempuan yang memakai rok pendek. Aku  tak punya dendam denganmu. Aku juga tak suka kalau kau tertidur di mataku. Tapi aku ingatkan hari itu, saat kau menyandarkan seluruh tubuhmu, aku mengingat sesuatu yang begitu penting.

Yang didirikan oleh angan-angan. Terlalu lembut untuk di katakan impian. Maka anggap saja ini sebuah perumpamaan. Siang hari bagimu, bagi manusia yang berlalu-lalang di hiruk pikuk kota, adalah panas menyengat yang (kalau bisa) dihindari. Tahukah? Matahari itu bintang. Sedang, seseorang di tengah malam tak kunjung merasa hangat. Kuharap kau mengerti, perempuan ber-rok pendek.

Saat ini, aku tak hilang kendali. Sungguh. Aku sepenuhnya paham aturan main disini. Hanya saja, saat melihat rok yang melingkar di pahamu, aku berpikir untuk mencadari tanganku. Kau tahu, ia bisa lebih vulgar dari dunia tahu. Akan kutuliskan sebait sajak untukmu, kuharap kau tak mengerti. Sungguh. Karena kau bodoh.

Jilati aku tuan...
Aku puisi bercampur nanah...
Usap aku dengan lidahmu...
Aku empedu berlarik seribu...
Kau rumahku...
Tempat iblis dan rindu bercumbu...

2 comments: