Monday, October 10, 2011

aku yang patah hati

dijemariku, ada malu dan iba berbisik
menyampaikan tujuan yang tak terlisankan
dalam kelu lidahku, kucoba berucap balik
“semesta...semesta...semesta...”, itu mantranya

bertintakan hujan, langit menulisiku rindu
rindunya fajar pada kejora, rindunya mentari untuk pelangi
ya..semua tak lama, lalu terpisahkan oleh sehelai ruang
namun rindu itu terlalu luas, terlalu haus untuk bersapa dengan hitungan waktu

kau dan aku adalah penyatuan rindu itu
berkelabat cepat di semua dimensi,
lalu duduk hening dibawah cahya tak bernama

dalam putih pucat kucecar abstrak hadirmu
menggores tiap detil indahmu, tapi tak mampu
logikaku tunduk bisu, dan entah nafsu ataukah jeritan yang terlalu berderu
aku rusak - tenggelam - berserakan .

2 comments: